.

Uniknya Gelandangan Canggih dan Pengemis di Jepang


Jangan berpikir jika di negeri maju seperti Jepang ini tidak ada gelandangan. Karena berdasarkan data tahun 2001 dari kementrian kesehatan, Gelandangan di Jepang tercatat sebanyak 25.296 orang atau cuma berkisar 0,019 persen dari sekitar 128 juta penduduk Jepang. Setiap tahun ribuan orang tersisih akibat kerasnya persaingan hidup dan dipaksa terlempar hidup di jalanan terlebih lagi bagi mereka yangg hidup di kota besar semacam Tokyo, yang merupakan kantong gelandangan terbesar. Gelandangan atau dalam bahasa Jepang disebut homeless adalah orang yang tanpa rumah. Mereka tetap memiliki rumah walaupun sederhana yang dibangun di sudut taman (41%) atau tepi sungai (23,3%). Umumnya terbuat dari terpal biru atau bahan kayu sedikit permanen. Karena termasuk tempat publik maka sewaktu waktu bisa digusur.


1. Alasan menjadi Homeless
Kebanyakan gelandangan di Jepang bukan karena keturunan, mereka awalnya hidup normal punya istri, anak, rumah dan pekerjaan tetap. Kehilangan pekerjaan, dililit hutang, melarikan diri karena alasan tertentu serta mereka yang memiliki gangguan mental adalah alasan umum dari kehidupan para gelandangan di Jepang. Kebanyakan para homeless adalah laki laki (82%) paruh baya/sudah berumur. Homeless wanita hanya sekitar 3% saja. Jumlah homeless baru dari tahun ke tahun terus bertambah. Ekonomi Jepang yang cenderung menurun mungkin adalah salah satu penyebabnya.

2. Pantang untuk Meminta Uang
Para gelandangan di Jepang pantang meminta uang. Jepang bersih dari pengemis dan peminta minta. Hal ini berkaitan denga budaya orang Jepang yang menganggap uang harus didapat dengan cara bekerja. Budaya Jepang umumnya tidak mengenal kata "memberi karena kasihan". Betapapun miskinnya untuk bisa hidup mereka pun tetap harus bekerja. Pekerjaan yang paling banyak dilakukan adalah mengumpulkan kardus dan kaleng aluminium bekas. Hampir setengah minuman ringan yang dijual di Jepang adalah berbahan aluminium sehingga kalengnya cukup laku. Selain keranjang sampah, mesin penjual minuman merupakan tempat wajib mereka kunjungi kadang sejumlah uang kecil mereka dapatkan disekitarnya. Uang kembalian sering tertinggal atau lupa diambil pembeli atau uang logam jatuh menggelinding di bawah kotak mesin. Pembeli biasanya malas jongkok dan mengorek ngorek untuk mengambilnya jadi ini rejeki para gelandangan. Bagi mereka yang sudah terlalu sangat miskin untuk mendorong gerobak kardus biasanya bertahan hidup dari makanan sisa yang didapat di keranjang sampah. Tempat pembuangan di sekitar rumah makan adalah tempat yang disukai.

3. Pengemis Unik
Meminta uang dalam arti menengadahkan tangan di keramaian atau di tempat umum, hampir tidak ada. Namun mereka melakukannya dengan cara rapi dan tersamar. Ada 2 cara efektif yaitu mencukur habis rambut kepala dan menyamar jadi pendeta atau rahib buddha. Dengan bermodalkan rambut botak, jubah kuning dan menengadahkan mangkuk kecil mereka bebas melakukannya dengan aman dari jangkauan hukum. Berjam jam berdiri tanpa bergerak tentu bukan pekerjaan menyenangkan, namun setidaknya masih ada orang yang mau memberi. Kemudian pengemis dengan gaya lain adalah dengan berpura pura minta sumbangan biaya pengobatan. Mahalnya biaya pengobatan di Jepang membuat cara penggalangan dana semacam ini cukup populer. Para mafiapun ikut bermain di dalamnya. Dengan bermodalkan kotak sumbangan, spanduk dan teriak, harapan mendapatkan hasil tampaknya lebih besar. Mereka umunya melakukan dengan berpasangan atau bergrup. Varian baru pengemis ini masih banyak seperti meminta sumbangan biaya perawatan anjing dan lain-lain. Jumlah penggemar binatang di Jepang cukup banyak, tentu lahan usaha cukup bagus untuk memanfaatkan situasi ini. Sebagian besar dari mereka resmi dan memiliki ijin khusus sedangkan penipuan hanya sebagian kecil aja.


4. Gelandangan Unik
Satu fenomena dari golongan tanpa rumah ini adalah munculnya para homeless gaya baru. Usia relatif muda, penampilan mereka bersih, rapi atau trendi jadi sama sekali tidak tampak seperti homeless. Mereka memilih internet cafe sebagai tempat tinggal favorit. Ini disebut dengan nama "netto kafe nanmin" atau pengungsi kafe internet. Mereka tinggal di kafe internet untuk jangka waktu tetap dan lama. Hal itu mungkin karena hampir semua kafe internet di Jepang memiliki fasilitas nyaris seperti hotel. Fasilitas yang paling dibutuhkan tentu saja shower untuk mandi, toilet dan tempat untuk tidur. Ada kursi atau sofa yang bisa dipakai untuk tidur. Untuk tempat menyimpan barang, mereka memanfaatkan jasa locker yang bisa ditemukan di stasiun. Wajar kalau hampir semua kafe internet di Jepang selalu penuh menjelang tengah malam sampai pagi. Kebanyakan dari mereka tidak memanfaatkan untuk berinternet ria tapi sebagai tempat tidur. Gelandangan model baru ini umumnya adalah usia muda yang tidak memiliki pekerjaan tetap. Kebanyakan agen pemilik rumah tidak akan bersedia melayani penyewa yang tidak memiliki pekerjaan atau gaji tetap. Dengan gaji kurang dari 2 juta yen pertahun, menyewa rumah di pusat kota tampaknya tidak mungkin.


5.Gaji dari Memulung Sampah
Mayoritas dari mereka hidup dengan mengandalkan dari memulung (73,3 persen), dengan penghasilan per bulan rata-rata 10.000-30.000 yen (35,2 persen) dan 30.000-50.000 yen (18,9 persen). Jika dirupiahkan dengan kurs Rp 100 per yen, maka penghasilan itu setara dengan Rp 1 juta sampai Rp 3 juta dan Rp 3 juta sampai Rp 5 juta.

6.Rumah Nol Yen
Kreasi rumah ala gelandangan ini sering disebut juga “Rumah Nol Yen” karena menggunakan panel tenaga surya. Adanya tenaga surya membantu penghuninya dapat menikmati hiburan dari radio maupun TV secara gratis. Alasannya, tentu saja karena tenaga surya dapat menghasilkan listrik untuk menyalakan radio maupun TV tersebut. Rumah hasil buatan gelandangan ini bentuknya kecil, bagian sisi diberi lapisan vinil biru yang lebar, interior dari kayu serta atap dari kardus. Selain itu, juga dapat menjadi kapal karena kemampuannya mengapung di atas air.


7. Bantuan Pemerintah kepada Gelandangan
Tahun 2009 pemerintah Jepang memberikan bantuan tempat tinggal sementara, pakaian, perlengkapan mandi dan pinjaman sebesar 10 ribu yen (sekitar Rp1 juta) hingga 50 ribu (Rp5juta) bagi warga yang sudah mengisi formulir tunjangan kesejahteraan sosial. Selain itu pemerintah Jepang juga mencoba mengurangi para homeless tersebut dengan memperkerjakannya di sebuah perusahaan sehingga dapat meminimalisir jumlah gelandangan yang berada di negaranya tersebut.

0 Response to "Uniknya Gelandangan Canggih dan Pengemis di Jepang"

Poskan Komentar