.

"Ikebana (生け花)" Seni Merangkai Bunga dari Jepang


Kata ikebana merupakan gabungan dari kata ‘ike’ yang artinya ‘hidup’ atau ‘tumbuh’ dan kata ‘hana/ bana’ yang berarti ‘bunga’. Secara populer ikebana diterjemahkan sebagai ‘seni merangkai bunga’.


Rangkaian bunga ikebana tidak hanya tersusun atas bunga saja, tapi juga daun, buah, rumput, dan ranting. Bahkan plastik, kaca dan logam juga digunakan dalam ikebana kontemporer. Semua unsur tersebut dirangkai sedemikian rupa dengan mempertimbangkan ukuran, tekstur, volume, warna, jambangan, tempat, dan waktu merangkai bunga.

Dalam sejarahnya ikebana adalah rangkaian bunga yang dipersembahkan kepada Budha dan roh leluhur. Saat itu, rangkaian ikebana masih sangat sederhana, hanya terdiri dari 3 tangkai bunga yang ditancapkan secara simetris. Tangkai utama yang paling panjang sebagai pusat, sedangkan 2 tangkai lainnya yang lebih pendek menjadi pendamping kiri-kanannya. Ikebana baru mulai berkembang pada awal abad 17. Rangkaian bunga yang awalnya untuk persembahan tersebut berkembang menjadi gaya rikka (bunga berdiri) yang diciptakan oleh seorang biksu Budha dari Sekolah Ikenobo. Tangkai utama pada gaya ini melambangkan surga atau kebenaran, sedangkan 2 tangkai lainnya melambangkan alam (kehidupan). Berikutnya, gaya-gaya yang lain pun mulai bermunculan, masing-masing dengan kekhasan yang berkembang seturut dengan situasi kondisi di negeri tersebut. Namun gaya-gaya tersebut masih digolongkan dalam ikebana tradisional.

Pasca Restorasi Meiji tahun 1868, semua kesenian yang berkembang di Jepang mangalami stagnasi. Kebudayaan barat begitu memukau masyarakat Jepang sehingga kesenian dan kebudayaan tradisional Jepang sedikit terlupakan. Termasuk ikebana. Untungnya hal itu tak berlangsung lama. Mulai muncullah aktivitas terkait ikebana, diawali dengan gaya baru: moribana (tumpukan bunga). Kemunculan gaya moribana yang dikembangkan oleh Ohara Unshin membangkitkan kembali minat bangsa Jepang pada ikebana. Tak sebatas gaya yang sudah dikenal, aneka gaya kontemporer juga mulai dikembangkan.

Banyak teknik yang harus dikuasai untuk menyusun batang dan bunga untuk memenuhi standar Ikebana yang baik. Tiga sampai lima tahun belajar kadang diperlukan untuk benar-benar menguasai keterampilan teknis dan estetika Ikebana. 

Sudah hampir 700 tahun Ikebana dipraktekkan. Dalam waktu itu telah berkembang pula beberapa gaya yang berbeda. Di antara beberapa gaya yang paling populer adalah Rikka (bunga tegak), Seika (bunga hidup) dan Nageire (campuran antara bunga tegak dan hidup). Gaya tersebut umumnya disusun dalam vas tinggi. Sedang gaya Moribana biasanya disusun dalam wadah atau piring yang dangkal.

Ikebana secara tradisional umumnya ditampilkan di ruang tamu dimana pemilik rumah menerima tamu-tamu mereka. Seiring perkembangan jaman, bunga Ikebana bisa dijumpai di lobi bangunan publik atau komersial.

Pemilihan bunga sangat penting dalam ikebana. Bunga harus dipilih dengan cermat dan mesti dapat berpadu dengan wadah atau vasnya. Ketika memilih bunga, perangkai harus mempertimbangkan musim. Bunga, vas dan, musim harus benar-benar kompatibel.

Tidak seperti desain seni merangkai bunga di barat, dimana bunga biasanya disusun berlapis, Ikebana menekankan pemakaian bunga dengan jumlah daun yang minimal untuk menampilkan kesan sederhana namun elegan. Seiring perkembangan waktu, ada pula gaya Ikebana yang terpengaruh seni merangkai bunga di barat. Gaya ini disebut sebagai Hanaisho. Meskipun berbagai jenis bunga digunakan dalam satu desain, dalam Ikebana bunga tidak disusun menumpuk untuk menciptakan keseimbangan. Ikebana mengutamakan keselarasan dengan alam, kesederhanaan, sekaligus desain yang elegan. Jangan lewatkan postingan berikutnya tentang "Berbagai gaya tradisional ikebana Jepang yang menawan".

Sumber: dhenokhastuti.wordpress.com dan amazine.co

0 Response to ""Ikebana (生け花)" Seni Merangkai Bunga dari Jepang"

Poskan Komentar