.

Karoshi Pekerja Jepang Rela Mati Karena Kelelahan Bekerja + Game Bunuh Diri


Bagi anda yang belum tahu, bekerja di Jepang memang sepertinya menggiurkan. Selain gajinya tinggi dibandingkan gaji di Indonesia, bekerja di lingkungan yang serba maju seolah-olah akan membuat hidup lebih sempurna. Namun apa yang kalian pikirkan mungkin akan berubah jika mendengar kisah salaryman.


Salaryman, merupakan sebutan bagi seorang pegawai kantoran di Jepang yang pendapatannya berbasis gaji. Salaryman ini biasa ditemukan di perusahaan korporasi. Mereka bergaji rendah, padahal bekerja setengah mati, tanpa uang lembur, dan tanpa kepastian kenaikan pangkat meski telah bekerja puluhan tahun.

Sulitnya mendapatkan pekerjaan membuat orang Jepang terpaksa harus bertahan untuk menjadi salaryman, terutama lulusan baru yang terus dikejar-kejar masalah finansial. Maklum, biaya hidup di Jepang memang terbilang ekstrem, semua serba mahal.


Kaum pekerja keras kelas menengah ke bawah yang hidupnya serba pas-pasan adalah jenis salaryman di Jepang. Mereka terus mempertahankan pekerjaannya, lembur siang dan malam, bahkan sampai rela mati.


Istilah rela mati karena kelelahan bekerja dalam bahasa Jepangnya disebut karoshi (death from overwork). Seperti yang dilaporkan situs Facts and Details, karoshi bisa disebabkan karena kecelakaan di tempat kerja, kematian karena terlalu lelah, atau bahkan bunuh diri akibat tidak tahan menghadapi tekanan di tempat kerja.

Salah satu kasus karoshi yang cukup fenomenal adalah Kenichi Uchino yang pingsan dan kemudian meninggal ketika bekerja. Kejadian tersebut dikarenakan Uchino yang bekerja lembur 80 jam setiap bulan tanpa gaji tambahan. Padahal pria tersebut tergolong masih muda, usianya baru 30 tahun.


Menurut situs canada.com, salaryman memang sering mengorbankan kehidupan pribadi mereka demi keuntungan perusahaan. Ironisnya, pihak perusahaan seolah tidak menghargai kerja keras mereka. Kasus Uchino tersebut merupakan diduga karena kelelahan bekerja. Bayangkan saja, rata-rata salaryman memang hanya tidur empat jam saja dalam sehari.

Salah seorang warga Jepang Takashi, menuturkan jadwal sehari-harinya sebagai salaryman melalui blog miliknya, seperti yang dikutip dari situs Seek Japan. Setiap pagi, Takashi bangun jam setengah enam pagi. Satu jam kemudian, ia mulai naik kereta untuk ke kantor. Perjalanan memakan waktu cukup lama, sekitar 1,5 jam. Sehingga Takashi baru sampai di kantor jam delapan pagi. Takashi selesai bekerja pukul sembilan malam. Meskipun begitu, ia selalu menyempatkan diri untuk mengikuti pesta alkohol. Pesta minum-minum ini biasanya dilakukan karena tuntutan atasan atau teman-teman kerja yang lain. Pesta tersebut berakhir sampai tengah malam. Takashi kemudian pulang melalui kereta lagi, lantas sampai di rumah jam setengah dua.

Beginilah kira-kira rutinitas para salaryman Jepang:
06:30 = bangun dari tempat tidur
07:30 = berangkat ke kantor (jalan kaki / naik sepeda / subway)
08:50 = harus tiba di kantor
09:00 = meeting pagi dengan supervisor
09:10 = mulai kerja
12:00 = makan siang (bento / kantin / restoran terdekat)
13:00 = mulai kerja lagi
17:00 = lembur dimulai (biasanya tanpa uang lembur)
20:30 = pesta nomikai (kalau ada)
21:30 = pulang ke rumah (jalan kaki / naik sepeda / subway)
22:30 = sampe rumah, nonton TV, baca koran
23:00 = tidur
Ulangi terus dari Senin-Jumat. Sabtu biasanya pulang lebih awal (kalau ada lembur, kerja seperti biasa). Minggu libur (kalau ada lembur, kerja seperti biasa).

Bisa dibayangkan, apabila salaryman setiap hari melakukan rutinitas serupa, dari hari Senin sampai Sabtu, betapa lelahnya mereka. Belum lagi dihitung jadwal lembur yang tidak bisa diduga.

Kelelahan karena bekerja ini pun membuat para salaryman sering tertidur selama perjalanan berangkat atau pulang dari bekerja ketika di kereta. Mereka akan terus melakukan gaya hidup yang berat seperti itu hanya demi menyambung hidup.

wah kalau ini jangan ditiru ya

Yang paling mudah terkena gejala Karoshi yaitu para dokter, wartawan, para pekerja pabrik dan sopir taksi. Mereka terpaksa atau secara sukarela harus bekerja lebih lama, baik untuk menunjukan prestasi atau meraih pendapatan lebih tinggi. Ironisnya, dalam masa resesi seperti saat ini, para pekerja yang berisiko tinggi terserang Karoshi, harus bekerja lebih keras lagi. Karyawan pabrik atau perusahaan yang terancam bangkrut, seringkali kerja lembur tanpa dibayar, demi menyelamatkan tempat kerjanya.

Kini Pemerintah Jepang telah mencoba berbagai cara untuk mengatasinya. Mulai dari menyediakan nomor telepon darurat untuk menerima keluh-kesah para salaryman, buku petunjuk untuk mengurangi stres, sampai mengesahkan undang-undang yang memberikan sejumlah uang asuransi ke para janda dan anak-anak yang ditinggal mati karena karoshi. Pemerintah bertindak seperti ini agar kematian yang disebabkan karoshi dapat segera hilang atau berkurang.

Ada gamenya juga lho:
Untuk memainkannya tinggal klik gambarnya ya. Permainan ini lumayan seru karena permainan ini berlawanan dengan game-game yang biasanya. Apa bedanya?? bedanya ketika bermain game biasanya anda kalah karena mati kehabisan nyawa, tertusuk atau tertembak oleh musuh. Sedangkan permainan karoshi ini harus di wajibkan mati dulu supaya menang. Jadi haruslah pintar-pintar mencari cara untuk bunuh diri. hehe. Aneh khan?? Tapi Unik.


Ada juga aplikasi gamenya untuk android di google play DISINI. Sekian postingan kali ini, jangan lupa like facebook di box bawah untuk dapat melihat artikel terbaru kami. Terima kasih sudah membaca artikel tentang "Karoshi Pekerja Jepang Rela Mati Karena Kelelahan Bekerja + Game Bunuh Diri" dan semoga bermanfaat.^^. Untuk yang mau copy-paste tidak apa-apa asalkan memberi link aktif seperti ini ya: http://www.japanindocuteculture.com/2013/10/karoshi-pekerja-jepang-rela-mati-karena.html Untuk yang suka copy-paste sembarangan hati-hati blog anda akan kami laporkan pada pihak blogger.

0 Response to "Karoshi Pekerja Jepang Rela Mati Karena Kelelahan Bekerja + Game Bunuh Diri"

Poskan Komentar