.

Mahal Banget Biaya Pemakaman Orang Meninggal di Jepang


Dengan masuknya agama Buddha ke Jepang maka pemakaman kremasi mulai diperkenalkan walaupun terbatas hanya dilakukan oleh golongan pendeta Buddha dan kaum Onboo yaitu aristokrat atau golongan pejabat tinggi saja. Jadi kremasi bukanlah suatu keharusan karena ajaran Buddha yang berkembang di Jepang karena saat itu memberikan pilihan empat cara pemakaman yaitu :

Mahal Banget Biaya Pemakaman Orang Meninggal di Jepang

- Ditanam di tanah (earth burial)
- Dihanyutkan ke air (water burial)
- Diletakkan di alam terbuka (exposure in the wild atau wind burial ) dan
- Dibakar (cremation)

Pemakaman yang paling populer di Jepang adalah dibakar (kremasi). Pemakaman kremasi dilakukan bukan karena alasan agama namun lebih banyak karena faktor lain diluar agama yang salah satunya adalah karena peraturan dan perijinan. Pemakaman kremasi hampir bisa dikatakan wajib diterapkan pada setiap pemakaman dan diatur oleh undang undang. Hal ini disebabkan karena pemakaman kremasi dianggap sebagai solusi terbaik mengatasi masalah sanitasi atau kesehatan, menjaga kebersihan air tanah serta alasan klasik pada setiap negara maju yaitu penyempitan lahan. Alasan inilah yang mungkin membuat aturan tentang pemakaman diatur secara ketat dengan undang undang. Kemudian bagi masyarakat umum, pemakaman kremasi dianggap sebagai alternatif paling murah dibandingkan dengan cara pemakaman bentuk lain.

Semurah-murahnya di Negara Jepang tetaplah terbilang mahal termasuk harga untuk orang meninggal. Sepertinya hal ini terdengar sangat aneh mengingat orang meninggal sudah tidak ada hubungannya dengan urusan duniawi. Meskipun kenyataannya orang Jepang banyak yang meninggal dunia karena bunuh diri namun Jepang tetap memiliki harga mahal sekalipun hanya untuk orang yang sudah meninggal.

Harga lahan yang sangat mahal sebetulnya bukanlah menjadi masalah besar bagi sebagian orang, khususnya golongan kaya, namun masalahnya utama yang ada di negara itu adalah tempat makam konvensional yang sudah tidak ada lagi. Cukup menarik untuk dicatat bahwa dari luas wilayah daratan mereka 67% merupakan gunung, bukit yang dibiarkan kosong tanpa bangunan apapun. Jadi sebetulnya tanah masih tersedia sangat luas di negara tersebut. Namun masalahnya kebijakan pemerintah mereka yang sangat ketat yaitu melarang 
mengalih fungsikan semua lahan yang ada menjadi fungsi lain, termasuk perumahan apalagi kuburan.

Dengan sistem kremasi, apakah hal itu berarti tidak ada kuburan di negara tersebut ? Tentu saja ada. Namun berbeda dengan kuburan konvensional yang memerlukan banyak lahan, kuburan di Jepang umumnya cendrung berukuran serba mini karena di dalamnya hanya menyimpan abu sisa pembakaran saja. Disamping ukuran makam yang serba kecil tadi, juga ada budaya atau tradisi lain yaitu membuat satu makam untuk satu keluarga, jadi satu nisan dihuni oleh semua keluarga beserta keturunannya. Makam jenis ini biasanya akan diwariskan pihak anak laki laki tertua, sedangkan untuk anggota keluarga lain akan membuat makam keluarga baru. Khusus untuk pendirian makam baru, ada juga tradisi lain yang tidak kalah uniknya yaitu mencantumkan semua anggota keluarga yang ada, walaupun pemilik nama yang bersangkutan masih hidup yang tujuan salah satunya adalah untuk menghemat biaya pembuatan batu nisan. Untuk membedakan umumnya digunakan warna merah untuk mereka yang masih hidup dan akan dihapus (warnanya) ketika yang bersangkutan saat meninggal nanti.

Mahal Banget Biaya Pemakaman Orang Meninggal di Jepang

Mengapa sebaiknya semua orang menghindari menghabiskan sisa umur di Jepang? Ternyata hal itu berpengaruh dengan mahalnya biaya orang meninggal di Jepang. Harga tanah untuk tempat pemakaman berkisar antara 2 juta yen (Rp.235 juta) sampai 7 juta yen (Rp.821 juta). Hal ini tentu membuat harga untuk pemakaman bagi orang meninggal terlampau sangat mahal. Apalagi di Jepang orang hidup saling berdesak-desakkan. Intinya harga sebuah tempat pemakaman di Jepang lebih mahal daripada harga rumah.

Bahkan ini belum termasuk harga nisan hingga jutaan yen dan harus membayar biaya administrasi sampai 50 ribu yen (Rp.6 juta) setiap tahunnya. Namun batu nisan ini dapat digunakan secara turun temurun oleh setiap keluarga, tapi bagi orang yang kaya lebih memilih memiliki nisan sendiri-sendiri. Tidak hanya tanah pemakaman, namun upacara kematian juga termasuk mahal. Keluarga orang yang meninggal harus menyediakan dana sebesar 2 juta yen untuk biaya biksu untuk mengurus jenazah dari mulai dari kremasi, mendoakan arwah, sampai memasukkan abu ke dalam nisan.

Di Jepang sudah menjadi hal yang lumrah bila kematian juga memiliki nilai harga yang tinggi. Tidak heran bila banyak orang Jepang yang bukan kristen beralih dengan menggunakan rumah duka dengan harga yang lebih murah. Hal ini terjadi karena pemerintah hanya memberi uang duka sebesar 50ribu yen. Meskipun ada uang sumbangan dari orang yang datang melayat namun tidak cukup untuk membayar semua keperluan pemakaman. Proses pemakaman bagi anak-anak tidak terlalu jauh beda. Anak-anak yang meninggal dibawah umur 16 tahun dimakamkan bersama boneka dan diletakan mainan dan makanan di makamnya.
Biaya pemakaman di Jepang termasuk mahal namun bila seseorang yang meninggal tapi tidak memiliki anggota keluarga maka mayatnya akan diurus dan dibiayai oleh negara. Biasanya ini terjadi pada tunawisma yang meninggal dunia. Setelah dikremasi kemudian abunya akan disimpan di kuil berhubung tidak diketahui dimana nisan pemakaman keluarganya. Hal ini sangat memprihatinkan karena arwah orang meninggal tersebut tidak dapat bergabung dengan keluarganya.


0 Response to "Mahal Banget Biaya Pemakaman Orang Meninggal di Jepang"

Poskan Komentar