.

Obon Matsuri "Festival Pulangnya Arwah ke Rumah"


Tahukah kamu ternyata di Jepang juga ada selametan atau syukuran untuk para anggota keluarganya yang sudah meninggal. Bukan hanya sekedar mempersembahkan makanan saja tapi ada banyak kegiatan unik yang mereka lakukan. Apa saja itu?? Yuk kita simak!


Obon [お盆] merupakan singkatan dari istilah agama Buddha, Urabon, yang hanya diambil aksara Kanji terakhirnya saja, yaitu Bon [nampan]. Di depan kata Bon ini lalu ditambah honorifik hi uruf "O". 

Mulanya, kegiatan Obon di sini sekedar meletakkan nampan yang berisi barang-barang persembahan untuk para arwah leluhur. Pada perkembangannya, Obon menjadi istilah upacara bagi arwah orang yang meninggal [shourou], dimana para keluarga yang merayakan Obon ini memanjakan mereka dengan berbagai barang persembahan.

Di daerah-daerah tertentu Bonsama atau Oshourousama adalah sebutan bagi arwah leluhur yang diyakini datang pada saat perayaan Obon. Diperkirakan, orang Jepang sudah merayakan Obon secara rutin tiap tahunnya lebih dari lima abad yang lalu [sekitar 657 M].

Asal Mulanya Obon
Menurut sumber-sumber yang saya baca, ada beberapa asal-usul atau penyebab diadakannya perayaan Obon, antara lain:

Dalam sebuah sutra diceritakan tentang kisah seorang Pendeta bernama Mokuren [dikenal sebagai Mogallana di Pali], yang ketika sedang bertapa melihat almarhumah ibunya menderita di Neraka Hantu Lapar, dimana pada setiap makanan yang ia sentuh, terbakar. Mokuren yang merasa iba, memohon pada Shakyamuni Buddha untuk menyelamatkan ibunya dari nasib malangnya. 

Shakyamuni lalu memerintahkan Mokuren untuk menyelamatkan ibunya dari karma akibat keegoisannya di masa lalu, dengan cara membuat persembahan makanan dari hasil tanah dan laut untuk sesama biksu pada hari terakhir pertapaan mereka [yang berlangsung selama 90 hari dan berakhir pada pertengahan bulan Juli] Setelah mengikuti perintah dari Shakyamuni, Mokuren menari penuh kegembiraan, karena ia dapat melihat ibu dan tujuh generasi nenek moyang sebelumnya dibebaskan dari semua siksaan.


Selain di Jepang, kisah terkenal yang secara perlahan berkembang menjadi momen peringatan bagi arwah leluhur ini juga dirayakan oleh beberapa negara lain yang mayoritas penduduknya menganut kepercayaan Mahayana Buddha, terutama negara China, Korea dan Vietnam. Dalam sekte Jodo Shinshu [salah satu sekte aliran kepercayaan di Jepang], perayaan ini dikenal dengan nama Kangi-E.

Pada kebudayaan di beberapa negara, arwah yang sudah meninggal, sering diumpamakan berubah menjadi bintang. Di lain pihak, peristiwa bintang jatuh paling banyak terjadi bertepatan dengan hujan meteor Perseid tahunan yang mencapai puncaknya beberapa hari sebelum tanggal 15 Agustus. Nah, kemungkinan dilangsungkannya perayaan Obon oleh masyarakat Jepang ini berkaitan dengan pengaruh dari orang-orang yang mempercayai peristiwa Bintang Jatuh tersebut.

Penjelasan lain menyebutkan bahwa tradisi mengenang orang yang sudah meninggal ini dilakukan dua kali dalam setahun, dengan alasan karena awal sampai pertengahan tahun dihitung sebagai satu tahun dan pertengahan tahun sampai akhir tahun juga dihitung sebagai satu tahun. Pada awal musim semi, arwah leluhur yang datang digambarkan sebagai Toshigami [yaitu salah satu Kami [dewa] dalam kepercayaan Shinto]. Peringatan ini sekaligus dijadikan Tahun Baru Jepang. Arwah leluhur datang untuk yang kedua kalinya pada awal musim gugur. 

Waktu Penyelenggaraan Obon Matsuri
Perayaan Obon berlangsung selama tiga hari. Walaupun begitu tanggal awalnya bervariasi pada setiap daerahnya. Hmm, Kog bisa?

Adanya perbedaan hari perayaan ini berkaitan dengan pergantian sistem kalender Tenpō [atau juga disebut sistem kalender lunar] menjadi sistem kalender Gregorian pada tanggal 13 Juli 1873 di awal masa pemerintahan Meiji. Saat dilakukannya pergantian sistem kalender ini, penduduk Jepang yang tinggal di daerah yang satu dan lainnya menunjukkan reaksi yang berbeda-beda. Hal ini sangat berkaitan dengan keyakinan mereka. Perbedaan penanggalan itu adalah sebagai berikut:

"Shichigatsu Bon" atau yang disebut juga dengan "Perayaan Obon di Bulan Juli" ini dilangsungkan pada tanggal 15 Juli berdasarkan kalender Gregorian. Daerah-daerah yang merayakan pada tanggal ini misalnya, Tokyo, Yokohama, dan wilayah Tohoku.

"Hachigatsu Bon atau disebut juga dengan "Perayaan Obon di Bulan Agustus ini dilangsungkan pada sekitar tanggal 15 Agustus berdasarkan kalender Gregorian. Pada umumnya, masyarakat Jepang lebih banyak memilih merayakan Obon di bulan ini. Apalagi media massa Jepang juga nampaknya lebih memilih menyiarkan tentang gegap gempita perayaan Obon di bulan ini.

"Kyu Bon" atau juga disebut dengan "Perayaan Obon Kuno ini dirayakan pada hari ke-15 bulan ketujuh berdasarkan sistem kalender Tenpō yang selalu berubah setiap tahunnya. Biasanya, "Kyu Bon" dirayakan di daerah bagian utara Jepang seperti wilayah Kantō, Chūgoku, Shikoku, dan pulau-pulau di bagian Barat Daya.

Tapi akhir-akhir ini, jam penyelenggaraan Obon Matsuri di beberapa tempat yang saling berdekatan mulai diatur supaya waktunya tidak bentrok dan perebutan pengunjung bisa dihindari. Ini disebabkan perayaan Obon di kota-kota sering kesulitan mendapatkan pengunjung. Karena banyak penduduk kota yang pulang kampung untuk merayakan Obon di sana. Bagi orang Jepang, perayaan ini dijadikan sebagai salah satu sarana reuni dengan keluarga yang tinggal di kampung. Mungkin, momen ini sama seperti hari Lebaran di Indonesia, dimana sebagian besar penduduknya melakukan mudik besar-besaran ke kampung halaman.

Liburan Obon
Liburan Obon dalam bahasa Jepang disebut Bonyasumi. Liburan ini sebenarnya merupakan liburan tidak resmi Jepang. Lama liburannya bisa tiga sampai lima hari tergantung pada kebijaksanaan masing-masing perusahaan. Biasanya mereka meliburkan karyawannya sebelum dan sesudah perayaan Obon. *Berbeda dengan perusahaan swasta, kantor-kantor pemerintahan umumnya tetap buka seperti hari biasa. Tetapi bila ada pegawai yang ingin meliburkan diri, diperbolehkan.

Urutan Tradisi Obon
Pada zaman dahulu pada saat lokasi pemakaman [ohaka] masih berdekatan dengan lokasi pemukiman penduduk, mereka biasanya akan pergi ke makam untuk menyambut kedatangan arwah leluhur. Di sana, para peziarah akan berdoa dan menaruh berbagai persembahan. Namun seiring perkembangan zaman dan mungkin ditambah dengan adanya pembangunan di sana-sini yang menyebabkan lokasi pemakaman dan lokasi tempat tinggal berjauhan, membuat adanya sedikit pergeseran tradisi. 

Biasanya, beberapa hari menjelang perayaan Obon, anak cucu yang mengharapkan kedatangan leluhur membuat mukaebi. Mukaebi adalah api kecil yang dipasang di luar rumah. Fungsinya untuk memberi penerangan jalan pulang bagi arwah nenek moyang yang turun ke bumi.

Setelah arwah leluhur sampai di rumah yang dulu pernah ditinggalinya, pendeta Buddha yang dipanggil membacakan sutra. Sutra ini disebut tangyou karena dibacakan di depan altar yang diisi dengan barang-barang persembahan [shouroudana, shouryoudana atau dana].

Pada tanggal 16 Agustus, saat arwah leluhur hendak pulang ke alam sana, rumah kembali diterangi dengan api kecil yang disebut dengan okuribi.

Okuribi yang terlihat dari jauh

Tradisi-tradisi unik
Beda daerah, beda pula tradisi yang diselenggarakan selama merayakan Obon. Antara lain:

Kendaraan dari terong dan ketimun
Di daerah tertentu ada tradisi membuat kendaraan semacam kuda-kudaan dan sapi-sapian dari terong dan ketimun yang disebut Shouryou-uma. Empat batang korek api atau potongan sumpit sekali pakai [waribashi] ditusukkan pada terong dan ketimun sebagai kaki. Terong berkaki menjadi "sapi", sedangkan ketimun menjadi "kuda". Kedua benda tersebut diyakini masyarakat Jepang sebagai kendaraan para arwah leluhur sewaktu mereka pulang ke rumah dan kembali ke alamnya lagi.


Mereka percaya kuda-kudaan yang terbuat dari ketimun bisa lari cepat sehingga arwah leluhur bisa segera sampai turun ke bumi. Sedangkan sapi-sapian yang terbuat dari terong -yang dianggap hanya bisa berjalan pelan- mereka pergunakan untuk mengantar arwah kembali pulang ke alamnya dengan maksud agar arwah leluhur diharapkan tidak tergesa-gesa pulang.


Mendoakan setan lapar
Pada beberapa daerah, penduduk melangsungkan upacara Segaki di kuil Buddha. Tujuannya adalah untuk menolong Gaki [setan kelaparan] dan mendoakan arwah orang yang meninggal di pinggir jalan dengan cara mendirikan pendirian altar [Gakidana].

Lampion Obon
Di beberapa daerah lainnya ada tradisi memajang lampion atau lentera yang terbuat dari kertas yang diterangi dengan lilin di dalamnya bon chochin, dengan maksud agar arwah leluhur bisa menemukan rumah yang dulu pernah ditinggalinya. Bon chochin terbuat dari washi dengan kaki penyangga yang terbuat dari kayu.


Menghanyutkan lampion
Ada pula beberapa daerah yang memiliki tradisi tourounagashi yaitu berupa pelarungan lampion yang terbuat dari washi di sungai sebagai lambang melepas arwah leluhur yang hendak pulang ke alam sana. Selain itu ada pula daerah-daerah yang mengadakan tradisi shourounagashi. Yaitu membuat kapal-kapalan kecil yang digunakan untuk memuat lampion sebelum dilarungkan ke sungai.


Hatsu Obon dan Niibon
Hatsu Obon atau juga disebut dengan Niibon adalah sebutan perayaan bagi arwah yang baru saja meninggal selama 49 hari. Upacara peringatan yang dilakukan untuk pertama kalinya ini mendapat perlakuan khusus dengan cara membacakan doa yang lebih banyak panjang. 

Obon Odori
Kalau diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia artinya tarian Obon. Disebutkan bahwa tradisi menari Obon sudah dimulai sejak zaman Muromachi sebagai hiburan umum. Seiring berjalannya waktu, makna religi yang asli mulai pudar dan tarian Obon pun bercampur dengan kegiatan musim panas. Para peserta yang berpartisipasi dalam acara ini biasanya akan memakai yukata, yaitu kimono tipis yang terbuat dari bahan katun dan bisanya dipakai pada saat acara musim panas lainnya. Acara menari bersama yang dapat diikuti oleh siapa saja tanpa mengenal jenis kelamin dan usia ini diadakan sebagai penutup rangkaian perayaan Obon. Konon gerakan tari Obon ini meniru gaya tarian arwah leluhur yang merasa gembira karena lepas dari hukuman kejam di neraka.

Setiap daerah memiliki tarian Obonnya masing-masing sesuai musik yang mengiringinya. Musik yang dinyanyikan berkaitan dengan pesan Obon, atau nyanyian rakyat min'yo.

Di Hokkaido, atau di utara Jepang, terkenal dengan nyanyian rakyat "Soran Bushi". Lagu "Tokyo Ondo" diambil dari nama ibukota Jepang. "Goshu Ondo" adalah lagu rakyat dari wilayah Shiga.Di daerah Kansai dikenal dengan lagunya yang berjudul "Kawachi Ondo". Tokushima di Shikoku, sangat terkenal dengan "Awa Odori" dan jauh di bagian selatan, anda dapat menikmati lagu "Ohara Bushi" dari Kagoshima. 


Cara mempertunjukkan tarian pun juga berbeda di setiap daerahnya. Walau demikian hal yang khas dari tarian Obon tidak jauh-jauh dari barisan yang melingkari panggung kayu bernama yagura. Yagura yang khusus dibuat untuk perayaan Obon ini dipergunakan untuk panggung para musisi dan penyanyi Obonnya.

Beberapa tarian berjalan searah jarum jam, dan beberapa tarian lainnya bergerak berlawanan arah jarum jam di sekitar yagura tersebut. Beberapa kali, orang-orang menghadapi yagura dan bergerak maju ke depan dan mundur menjauhinya. Namun beberapa tarian, seperti tari Ohara Kagoshima, dan Tokushima Awa Odori, hanya melanjutkan dalam garis lurus melalui jalan-jalan kota.

Tarian daerah dapat menggambarkan sejarah dan ciri khas daerahnya. Misalnya, gerakan tarian Bushi Tankō (yaitu tentang “lagu pertambangan batu bara") Tambang Miike tua di Kyushu menunjukkan gerakan para pekerja pertambangan, yaitu menggali, mendorong gerobak, menggantung lentera dan lain-lain. Semua penari melakukan urutan tarian secara serentak.

Alat-alat yang dipergunakan pada saat menari Obon pun berbeda pula. Beberapa tarian melibatkan penggunaan berbagai jenis kipas, sedangkan yang lain melibatkan penggunaan handuk kecil [tenugui] yang biasanya bercorak warni-warna. Beberapa tarian Obon ada yang membutuhkan penggunaan genta kayu kecil atau lonceng, atau "kachi-kachi" selama dalam tarian. Pertunjukan "Hanagasa Odori" dari Yamagata memakai topi jerami yang dihiasi dengan bunga-bunga.


Musik yang dimainkan selama tarian Obon tidak hanya terbatas pada musik Obon dan min'yo; beberapa irama enka modern dan musik anak-anak yang terdaftar dalam irama ondo juga dipakai selama musim Obon. Lagu "Pokemon Ondo" digunakan sebagai salah satu lagu penutup anime berseri di Jepang.
Untuk merayakan O-Bon di Okinawa, tarian drum Eisa dilakukan sebagai gantinya.

Tempat-tempat diadakannya perayaan
Kalau mulanya perayaan Obon dilangsungkan di lingkungan kuil Buddha atau kuil Shinto, belakangan ini Obon dapat pula dilangsungkan di ruangan yang lebih terbuka yang dapat menampung banyak pengunjung. Misalnya, di tanah lapang atau di depan stasiun kereta api. Di sana, penyelenggara mendirikan panggung yagura untuk penyanyi dan pemain musik yang mengiringi Obon Odori. Untuk menarik banyak pengunjung, pihak penyelenggara acara juga kadang mengundang pasar kaget.

Perayaan Obon di berbagai daerah di Jepang
- Daerah Tohoku [Prefektur Iwate, Akita dan Fukushima].
- Daerah Kanto [Prefektur Tochigi dan Tokyo]
- Daerah Tokai [Prefektur Gifu]
- Daerah Kansai [Prefektur Kyoto dan Nara]
- Daerah Chugoku [Prefektur Hiroshima]
- Daerah Shikoku [Prefektur Tokushima]
- Daerah Kyushu [Prefektur Nagasaki dan Okinawa]

Perayaan Obon di Luar Jepang
Brazil
Brazil adalah negara yang paling banyak memiliki populasi orang Jepang di luar Jepang. Itu sebabnya perayaan Obon selalu dirayakan setiap tahunnya. Sao Paulo adalah kota utama diadakannya perayaan O-Bon. Karena di kota ini banyak kumpulan orang Jepang tinggal. Pada saat perayaan berlangsung, selain tarian O-Bon, ditampilkan pula penabuhan gendang Taiko dan permainan alat musik khas Jepang, Shamisen.
Malaysia
Perayaan Obon juga dilangsungkan setiap tahunnya di Penang dan di Stadion Matsushita Corporation yang bertempat di Shah Alam, Selangor. Perayaan yang merupakan atraksi besar di Selangor ini, diadakan oleh masyarakat ekspatriat dan imigran di Malaysia. Pada saat perayaan berlangsung, diperkenalkan pula makanan dan minuman Jepang, kesenian dan tarian dari Jepang.
Amerika Serikat dan Kanada
Musim Obon merupakan peristiwa kebudayaan yang penting di Hawaii. Perayaan ini juga dilangsungkan di Amerika Utara. Umumnya oleh masyarakat yang berdarah Jepang-Amerika atau Jepang-Kanada. Perayaan Obon di Amerika ini biasanya dijadwalkan kapan saja antara bulan Juli sampai bulan September. Karena perayaan ini diselenggarakan oleh kuil-kuil yang berasal dari seluruh wilayah Jepang, Bon Odorinya pun bervariasi. Salah satu contohnya adalah Tarian Tanko Bushi dari Kyushu. Selain itu ada pula tarian yang mendapat pengaruh dari kebudayaan Amerika, seperti “Baseball Ondo”. Pertunjukan Taiko oleh kedua kelompok amatir dan profesional baru-baru ini menjadi fitur populer dari tarian Obon. Sehubungan dengan penyebaran orang Jepang yang berimigrasi, model Bon-odori di California bagian utara dan selatan pun juga berbeda. Lihat juga cara melihat arwah atau hantu DISINI.

2 Responses to "Obon Matsuri "Festival Pulangnya Arwah ke Rumah""

  1. nice post gan
    menarik nih dan sangat bermanfaat sekali info nya
    di tunggu info selanjutnya, thanks ya

    BalasHapus
  2. info nya bagus sekali gan
    dan sangat menarik
    ditunggu update nya

    BalasHapus