Legenda ''Akai Ito" Takdir Cinta Benang Merah [赤い糸] | JapanindoCuteCulture.com

Legenda ''Akai Ito" Takdir Cinta Benang Merah [赤い糸]

Pagi minasan.. maaf ya beberapa hari ini JCC jarang update. Habis ada beberapa masalah yang mengganggu. Moga cepat terselesaikan aja. By the way, apakah kalian pernah dengar kisah akai ito? Yup akai ito dipercaya oleh masyarakat Jepang sebagai benang merah yang mengikat antara jodoh masing-masing. Akai ito berasal dari bahasa Jepang yaitu kata akai「赤い」yang artinya 'merah' dan ito「糸」yang artinya 'benang' . 

Akai Ito - 赤い糸
''Salah satu jari kelingking tangan ada sehelai benang tipis berwarna merah yang tidak terlihat, benang tersebut sudah terjalin dengan jari kelingking jodoh kita, sejauh apapun pasangan itu berada, suatu hari benang merah itu akan membawa keduanya untuk bertemu dan menjalin cinta kasih sepanjang masa".

Dilansir dari erabaru.net, asal usul Legenda Cinta ''Akai Ito" Takdir Cinta Benang Merah [赤い糸] tersebut ternyata berasal dari pepatah cina kuno yang menceritakan "Laki-laki Tua Dibawah Sinar Bulan" dan "Benang Merah Mengikat Orang-orang yang Ditakdirkan". Untuk lebih lengkapnya kalian bisa baca kisah tersebut di bawah ini:

Legenda ''Akai Ito" Takdir Cinta Benang Merah [赤い糸]

Benang Merah Pengikat Takdir

Pada zaman kuno di China percaya akan "takdir," dimana segala sesuatu yang belum diketahui dalam hidup sudah ditentukan sebelumnya. Oleh karena itu, ada anggapan bahwa orang harus berhati-hati dalam perbuatan karena takut menciptakan karma. Pepatah China "Laki-laki Tua Dibawah Sinar Bulan" dan "Benang Merah Mengikat Orang-orang yang Ditakdirkan" keduanya berasal dari perumpamaan kuno yang menggambarkan bagaimana peristiwa-peristiwa penting seperti perkawinan adalah sudah ditentukan sebelumnya.

Menurut cerita, Wei Gu dari Dulin kehilangan orang tuanya ketika dia masih kecil. Dia ingin menikah lebih dini. Namun, semua rencana pernikahannya gagal. Pada tahun kedua Zhenguan masa pemerintahan Kaisar Tang Taizong, pada perjalanan wisata ke Chinghe, ia menginap di sebuah hotel di wilayah selatan Kota Song. Seorang pelancong, Putrinya Pan Fang memberi dia sebuah harapan, Pan Fang adalah seorang mantan pejabat pemerintah Chinghe. Keesokan harinya Wei Gu diundang untuk bertemu dengan keluarga Pan di depan Kuil Longxing, sebelah barat hotel. 

Pagi-pagi sekali keesokan harinya, Wei Gu, tak sabar ingin menikah, ia bergegas ke kuil. Bulan di langit masih tinggi ketika ia tiba. Ada seorang lelaki tua duduk di tangga, bersandar pada sebuah tas dan membaca buku di bawah sinar Bulan. Wei Gu melirik buku tersebut, tapi tidak dapat mengenali tulisannya. Jadi, ia bertanya pada orang tua itu, "Buku apa yang sedang anda baca, Tuan? Sejak masa muda, saya telah mempelajari banyak tulisan-tulisan yang berbeda, bahkan bahasa Sanskerta. Tapi saya tidak dapat menemukan apa yang tertulis dalam buku ini. Buku tentang apakah ini?" 

Orang tua itu tersenyum dan berkata, "Ini bukan sebuah buku dari dunia manusia. Bagaimana kamu bisa melihatnya?" Wei Gu bertanya, "Dari mana buku itu berasal?" Orang tua itu berkata, "Ini berasal dari akhirat." Kemudian Wei Gu bertanya lagi, "Bagaimana bisa seseorang dari akhirat muncul di sini?" Orang tua itu menjawab, "Bukan berarti saya tidak boleh berada di sini, tapi karena anda telah tiba terlalu awal. Semua pejabat dari akhirat mempunyai kekuasaan dan mengatur hal-hal di dunia manusia. Bagaimana bisa kami tidak berada di sini?" 

Wei Gu bertanya, "Tolong katakan pada saya, Apa yang menjadi tanggung jawab anda?" Orang tua itu menjawab, "Perkawinan di dunia manusia." Wei Gu sangat gembira dan berkata, "Orangtua saya meninggal ketika saya masih kecil. Saya ingin menikah lebih awal untuk menjamin kelangsungan keturunan agar tidak terputus. Namun, semua rencana pernikahan saya selama 11 tahun terakhir ditolak. Ada yang memberi tahu saya tentang putri pejabat Pan. Itu sebabnya saya di sini hari ini. Apakah menurut Anda pernikahan ini dapat diwujudkan?" 

Orang tua itu menjawab, "Tidak. Wanita yang akan kamu nikahi baru berumur tiga tahun. Dia akan menjadi istrimu ketika dia berumur 17 tahun." Wei Gu bertanya, "Apa yang ada dalam tas anda?" Orang tua itu berkata, "Benang merah yang digunakan untuk mengikat kaki pasangan pengantin. Begitu mereka ditakdirkan untuk menikah satu sama lain, Saya akan mengikat kaki mereka bersama-sama dengan benang merah ini. Meskipun keduanya adalah musuh, perbedaan kaya atau miskin yang ekstrem, atau dipisahkan oleh jarak yang luas, asalkan benang merah terikat, mereka akan bersama-sama. Bila kaki kamu terikat dengan kakinya, mengapa mencari yang lain? " 

Wei Gu bertanya, "Siapa istri saya? Di mana dia tinggal?" Orang tua itu menjawab, "Gadis itu dilahirkan dalam sebuah keluarga pedagang sayuran, sebelah utara hotel." Wei Gu bertanya, "Bolehkah saya melihatnya?" Orang tua itu berkata, "Dia selalu bersama dengan perempuan tua penjual sayuran. Ayo dengan saya dan saya akan menunjukannya untuk kamu." Mereka menunggu sampai matahari terbit, tapi orang yang ingin ditemui Wei Gu di kuil itu tidak muncul pagi itu. Orang tua itu menutup buku dan mengambil tas. Wei Gu mengikuti orang tua itu ke pasar. 

Di sana mereka melihat seorang wanita tua yang salah satu matanya buta menggandeng anak perempuan berusia tiga tahun. Keduanya tampak sangat kotor dan jelek. Orang tua itu menunjuk ke gadis itu dan berkata kepada Wei Gu, "Itulah istrimu." Wei Gu bertanya dengan marah, "Bolehkah saya membunuhnya?" Orang tua itu menjawab, "Gadis ini ditakdirkan untuk menjadi sangat kaya dan menikmati anugerah kehidupan bersama dengan kamu. Bagaimana kamu bisa membunuhnya?" Lalu orang tua itu menghilang. 

Wei Gu mengasah pisau setelah ia pulang ke rumah. Dia memberikan pisau tersebut kepada pelayannya dan berkata, "Kau selalu menangani masalah dengan baik. Jika kamu bisa membunuh anak perempuan ini untuk saya, saya akan memberi kamu 10.000 koin." Hamba berjanji untuk melaksanakan keinginan Tuan. Dia pergi ke pasar menyembunyikan pisau di lengan bajunya. Dia menunggu saat yang tepat, ketika ada banyak orang berdesakan di sekeliling. Dia menikam gadis itu lalu bergegas pergi. Setelah pelayan kembali, Gu Wei bertanya, "Apakah kau telah menikam dia?" Pelayan menjawab, "Saya mencoba untuk menikam jantungya, tapi salah sasaran, malah menikam keningnya." 

Gu Wei terus merencanakan perkawinan tetapi tidak berhasil. 14 tahun telah berlalu, oleh karena kontak terakhir dengan almarhum ayahnya, ia ditawari bekerja pada Wang Tai, seorang petugas keamanan di Xiangzhou. Gu Wei ditugaskan untuk menginterogasi tahanan. Wang Tai menyerahkan putrinya untuk menikah dengan Wei Gu karena dia menemukan Gu Wei cukup cakap. Istri Wei Gu usianya antara 16 dan 17 tahun dan cantik. Wei Gu sangat senang. Akan tetapi, ia mendapati istrinya selalu meletakkan bunga palsu kecil di keningnya dan tidak akan pernah melepaskannya, bahkan ketika mandi sekalipun. 

Pada akhir tahun, ia bertanya pada istrinya mengapa ia selalu mengenakan bunga palsu di keningnya. Dia mengatakannya sambil menangis, "Saya sebenarnya keponakan Wang Tai, bukan putrinya. Ayah saya adalah kepala daerah dan meninggal di kantornya. Saya masih bayi pada saat itu. Ibu dan saudara laki-laki saya meninggal tak lama setelah itu. Satu-satunya milik orang tua saya yang ditinggalkan untuk saya adalah sebuah rumah di selatan kota Song. Saya tinggal di sana dengan seorang pengasuh yang bernama Chen. Kami bertahan hidup dengan menjual sayur-sayuran. Chen merasa kasihan pada saya dan selalu merawat saya, Ketika saya berusia tiga tahun, Chen mengajak saya ke pasar di mana orang gila telah menikam kening saya, meninggalkan bekas luka, yang saya tutupi dengan bunga buatan ini. Tetapi sekitar 7 atau 8 tahun kemudian, paman saya datang ke Lulong untuk menjemput saya. Dia mengadopsi saya sebagai putrinya dan saya tinggal bersamanya, kemudian menikah dengan anda.

" Wei Gu bertanya, "Apakah Chen pengasuhmu itu satu matanya buta?" Istrinya berkata, "Ya, bagaimana kamu bisa tahu?" Gu Wei mengakui, "Orang gila itu sebenarnya saya yang mengirimnya." Kemudian ia mengatakan kepada istrinya seluruh kisah tersebut. Setelah itu, pasangan ini bahkan menjadi lebih menghargai satu sama lain. Kemudian mereka memiliki seorang putra, bernama Wei Kun, yang menjadi gubernur Yanmen. Ibunya juga menerima penghargaan yang tinggi dari Kerajaan karenanya. Takdir tidak dapat diubah oleh manusia. Ketika Walikota Kota Song belajar tentang peristiwa ini, ia memberi nama hotel di sebelah barat Kuil Longxing "Hotel Pertunangan."Sejak saat itu, para pengantar upacara perkawinan disebut sebagai "Laki-laki tua dibawah sinar Bulan." (Taiping/Epoch Times/dia)

Dari cerita di atas, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa 'Jodoh manusia sudah ditakdirkan masing-masing, terlepas dari benang merah pengikat takdir atau tulang rusuk adam, jadi jangan galau dan gundah ketika kalian masih jomblo. Kita pasti akan bertemu dengan jodoh kita, di waktu dan tempat yang sudah ditentukan oleh Allah SWT'. Just Believe it, Okay?? Akai ito ini sempat juga ada drama Jepangnya, tapi JCC belum pernah lihat. Mungkin lain kali akan kita review. Pemainnya Junpei Mizobata yang mendapat peringkat 4 dari Aktor Jepang Paling Cute, Ganteng, Cakep, Tampan, Ikemen Pujaan Wanita. Hehehe

Jangan lupa share ya kalau suka artikel 'Legenda ''Akai Ito" Takdir Cinta Benang Merah [赤い糸]'. Silahkan bagikan artikel ini ke teman-temanmu di fb, twitter, atau akunmu yang lain [tombol di samping postingan] . Like, follow dan komentar kalian sangat berarti untuk masa depan blog Japanindo Cute Culture ini. Jika mau berlangganan artikel Japanindo Cute Culture silahkan follow twitter, follow Google plus, like facebook [tombol di samping postingan] atau masukkan email kalian dikotak samping postingan. Mau Copy Paste artikel juga diperbolehkan asalkan mencantumkan link sumber seperti ini www.japanindocuteculture.com, jika tidak mau mencantumkan link siap siap aja blognya dihapus oleh DMCA. Hihihi. Terimakasih sudah membaca dan berkunjung ya. Have Nice Day.

2 Responses to "Legenda ''Akai Ito" Takdir Cinta Benang Merah [赤い糸]"